Beberapa waktu lalu pemerintah setuju untuk menaikkan anggaran pendidikan menjadi 20 persen dalam APBN tahun mendatang. Banyak kalangan yang menilai bahwa langkah itu bernuansa politis.
Tentu semua tahu kalau beberapa bulan lagi negeri tercinta ini akan ada hajatan besar. Apalagi kalau bukan Pemilu untuk memilih wakil rakyat serta presiden dan wakil presiden. Pengamat politik mengatakan bahwa langkah pemerintah itu bertujuan untuk mendongkrak popularitas pemerintah di mata rakyat. Biar dikatakan memperjuangkan hak-hak rakyat. Yah, namanya juga pengamat politik.
Kalau saya pribadi — saya bukan pengamat politik loh — langkah tersebut patut didukung. Walau bermuatan politik, langkah itu memang harus dan wajib ditempuh. Kapan lagi kalau bukan saat ini. Nggak mungkin kan menunggu dua atau tiga tahun lagi. Nggak sempat. Pemerintahan sekarang kan nggak sampai setahun lagi, iya kan?
Menurut undang-undang dasar (setahu saya) anggaran pendidikan sebesar 20 persen itu memang batas minimal yang nggak boleh ditawar-tawar lagi. Jadi sebenarnya langkah pemerintah itu sudah telat. Hehehe… untung nggak ada protes dari dewan.
Kalau melihat kualitas pendidikan di negeri kita ini memang sudah amat parah. Sangat jauh bila dibandingkan dengan negara tetangga kita. Begitu juga dengan kesejahteraan guru. Tak heran guru-guru pintar di negeri kita ini banyak yang lari ke luar negeri. Karena memang dari sisi kesejahteraan lebih menjanjikan.
Lebih memprihatinkan lagi adalah mutu guru-guru di wilayah Indonesia bagian timur — ini menurut penuturan Prof. Johannes Surya di MetroTV beberapa waktu lalu — yang memang cukup parah.
Bagaimana mungkin mengharapkan kualitas pendidikan yang tinggi kalau tenaga pengajarnya saja kurang bisa diandalkan. Kurangnya kosentrasi guru karna masalah finansial mereka,kurangnya pendidikan dan pelatihan bagi guru.Semoga dengan makin besarnya anggaran pendidikan makin meningkat kualitas pendidikan kita.
Semoga saja dengan peningkatan anggaran pendidikan menjadi 20 persen ini kualitas pendidikan di negara kita bisa terangkat. Meskipun hasilnya barangkali baru bisa kita rasakan 5 atau 10 tahun lagi.
Sekedar usul dari kami sebaiknya anggaran pendidikan dialokasi kan ke buku buku murah,biaya pendidikan murah dan bukan dialokasikan ke pembangunan fisik sekolah.